Fungsi Tanur Laboratorium dan Prinsip Kerja Tanur

Tanur atau yang dikenal dengan furnace merupakan salah satu instrumentasi yang biasanya digunakan untuk keperluan pengujian laboratorium. Tanur memiliki fungsi yang cukup penting dalam uji proksimat kimia, khususnya pada pengabuan sampel.

Nah, untuk menambah pengetahuan kamu tentang alat laboratorium, mari simak ulasan dari Blog Kimia mengenai instrumentasi yang satu ini. Pokok pembahasan yang akan kita pelajari meliputi pengenalan tanur, fungsi tanur, prinsip kerja tanur serta cara penggunaannya.

Apa Itu Tanur Laboratorium?

Fungsi Tanur Laboratorium

Tanur atau furnace adalah alat yang digunakan untuk memanaskan, mengeringkan, membakar sampel uji laboratorium. Alat laboratorium ini dirancang untuk mencapai suhu tinggi hingga 1700°C tergantung pada jenis dan merk tanur yang digunakan.

Tanur laboratorium memiliki aplikasi yang luas di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk kimia, biologi, teknologi pangan dan bidang-bidang lainnya.

Fungsi Tanur Laboratorium

Seperti yang sudah dikatakan, fungsi utama tanur laboratorium adalah untuk membakar sampel uji hingga menjadi abu. Namun secara umum tanur berfungsi sebagai berikut:

  1. Pemanasan Sampel: Digunakan untuk memanaskan sampel atau bahan hingga suhu yang sangat tinggi untuk analisis atau proses kimia.
  2. Pengeringan: Mengeringkan sampel yang mengandung kelembapan untuk mendapatkan kandungan padatan murni atau untuk pengeringan pra-eksperimental.
  3. Kalsinasi: Proses pemanasan sampel untuk menghilangkan komponen volatil seperti air atau CO2.
  4. Sterilisasi: Memusnahkan mikroorganisme pada alat laboratorium atau sampel biologis dengan menggunakan suhu tinggi.
  5. Penyinteran: Proses pemanasan yang digunakan dalam metalurgi dan keramik untuk menguatkan material atau mengurangi porositasnya.
  6. Analisis Termal: Melakukan analisis termogravimetri (TGA) atau analisis termal lainnya untuk mempelajari perubahan fisika atau kimia pada sampel akibat pemanasan.
  7. Pengolahan Material: Digunakan dalam pembuatan dan pengujian material, seperti pengolahan logam, keramik, dan polimer.

Tanur laboratorium merupakan alat serbaguna yang dapat digunakan untuk berbagai jenis analisis dan proses industri. Pemilihan tanur yang tepat bergantung pada kebutuhan spesifik eksperimental, termasuk rentang suhu yang diperlukan, ukuran sampel, serta jenis dan sifat material yang akan diproses.

Prinsip Kerja Tanur Laboratorium

Tanur laboratorium bekerja berdasarkan prinsip pemanasan terkontrol untuk mencapai suhu yang diinginkan dalam ruang pemanasan. Proses pemanasan ini dilakukan melalui elemen pemanas yang terintegrasi di dalam dinding tanur. Elemen pemanas ini dapat berupa kawat resistansi, pita, atau batang yang terbuat dari material seperti nikel-kromium (NiCr) atau molybdenum disilicide (MoSi2), tergantung pada rentang suhu yang diinginkan.

Ketika arus listrik mengalir melalui elemen pemanas ini, maka resistansi material elemen menghasilkan panas. Panas ini kemudian dipindahkan ke ruang dalam tanur melalui radiasi, konveksi, dan konduksi, menghangatkan sampel yang ditempatkan di dalamnya.

Cara Menggunakan Tanur Laboratorium

Bagi kamu yang ingin menggunakan tanur, berikut langkah-langkah yang dapat diikuti untuk memastikan penggunaan yang aman dan efektif:

1. Persiapan Sebelum Penggunaan

Sebelum menggunakan tanur periksa kondisi fisiknya, termasuk pintu, kabel listrik, dan elemen pemanas, untuk memastikan tidak ada kerusakan atau keausan yang bisa menyebabkan masalah keamanan.

Kamu juga perlu untuk membaca dan memhami manual penggunaan tanur, termasuk spesifikasi suhu maksimal, tipe bahan yang bisa dipanaskan, dan prosedur operasional standar.

2. Pengaturan Tanur

Selanjutnya pastikan tanur ditempatkan di area yang aman, stabil, dan tidak mudah terganggu. Hindari area yang mudah terpapar bahan yang mudah terbakar.

Kemudian tentukan suhu yang diperlukan untuk eksperimen dan atur tanur sesuai dengan suhu tersebut menggunakan panel kontrol.

3. Persiapan Sampel Uji

Tempatkan sampel atau bahan yang akan dipanaskan dalam wadah yang sesuai. Pastikan wadah tahan terhadap suhu yang akan digunakan, biasanya menggunakan cawan porselin atau krusibel.

Buka pintu tanur dengan hati-hati dan letakkan sampel di dalamnya. Pastikan sampel diletakkan dengan aman dan pintu tanur tertutup rapat.

4. Proses Pemanasan

Selanjutnya nyalakan tanur dan mulai proses pemanasan. Pastikan untuk memantau suhu dan waktu pemanasan sesuai dengan kebutuhan eksperimen.

Pengguna tidak diperbolehkan untuk meninggalkan tanur tanpa pengawasan selama penggunaan, karena suhu yang tinggi sangat berisko.

5. Pemeliharaan Setelah Penggunaan

Setelah proses pemanasan selesai, matikan tanur dan biarkan mendingin secara alami. Hindari membuka pintu tanur secara langsung untuk mencegah perubahan suhu yang tiba-tiba dan potensi kerusakan pada sampel atau tanur.

Setelah tanur cukup dingin, buka pintu dengan hati-hati dan keluarkan sampel. Gunakan peralatan pelindung diri seperti sarung tangan tahan panas untuk menghindari luka bakar.

Kemudian bersihkan interior tanur jika diperlukan untuk menghilangkan residu atau kontaminan. Pastikan tanur benar-benar dingin sebelum melakukan pembersihan.

Kesimpulan

Tanur merupakan salah satu alat laboratorium yang penting dalam pengujian yang memerlukan penggunaan suhu ekstream yang sangat tinggi. Fungsi tanur laboratorium adalah untuk memanaskan sampel atau bahan hingga suhu yang sangat tinggi untuk analisis atau proses kimia.

Penggunaan tanur laboratorium memerlukan pemahaman yang baik tentang prosedur operasional dan tindakan pencegahan keselamatan untuk menghindari kecelakaan atau kerusakan pada sampel. Selalu ikuti pedoman keselamatan dan prosedur kerja yang berlaku di laboratorium.

Avatar

Meidi Y

Mahasiswa lulusan D3 Analisis Kimia yang Sedang Melanjutkan Kuliah S1 Teknologi Hasil Pertanian di Kota Pendidikan.

Bagikan:

Tinggalkan komentar